
RANCANGCITRA.COM – Selama ini, masyarakat kelas menengah Indonesia seperti tidak punya banyak pilihan dalam mencari hunian. Antara terjebak di kos-kosan sempit yang jauh dari kata layak, apartemen dengan aksesibilitas terbatas, atau terikat KPR rumah tapak yang mencekik. Di tengah situasi ini, hadir konsep rumah flat Menteng di Jakarta Pusat yang kini ramai diperbincangkan sebagai alternatif yang lebih manusiawi.
Rumah flat adalah solusi kreatif di tengah ketimpangan hunian. Dirancang oleh Marco Kusumawijaya, arsitek sekaligus pendiri Rujak Center for Urban Studies, hunian ini mencoba mengubah paradigma. Bukan sekadar gedung bertingkat seperti apartemen, melainkan rumah tapak komunal yang biasanya terdiri dari tiga sampai empat lantai, sehingga dapat ditinggali beberapa keluarga dalam satu lingkungan yang inklusif.
Fenomena ini membuktikan bahwa rumah flat Jakarta bisa menjadi jalan tengah di antara apartemen komersial dan rumah subsidi. Alih-alih menempatkan masyarakat pada posisi “menerima saja”, rumah flat memberi ruang partisipasi, kedekatan sosial, serta efisiensi lahan di perkotaan yang semakin sempit. Hunian komunal ini bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ruang hidup bersama.
Jika menengok ke luar negeri, rumah flat artinya sudah lebih dulu diterapkan di berbagai kota besar. Contohnya, rumah flat di Hongkong yang padat namun terkelola, atau rumah flat Malaysia yang menjadi pilihan transisi bagi masyarakat urban. Indonesia pun mulai mengikuti jejak ini, meski dengan adaptasi sesuai budaya lokal.
Tidak hanya di Jakarta, kini beberapa pemerintah kota juga mulai melirik model ini. Rencana pembangunan rumah flat Surabaya menjadi sinyal bahwa konsep hunian vertikal komunal bisa berkembang lebih luas. Kota besar lain pun bisa mencontoh demi mengatasi ketimpangan akses rumah tapak yang makin tak terjangkau.
Lantas, bagaimana cara memilih dan merencanakan rumah flat di lahan sempit? Kuncinya ada pada desain yang ramah ruang. Pencahayaan alami, ventilasi silang, serta tata ruang multifungsi wajib menjadi prioritas. Dengan pendekatan ini, penghuni tetap bisa merasa nyaman meski ruang terbatas.
Tips lainnya, gunakan material yang berkelanjutan agar biaya perawatan tidak membengkak. Perencanaan rumah flat juga sebaiknya melibatkan ruang komunal: taman kecil, dapur bersama, atau area cuci jemur yang terintegrasi. Inilah yang membedakan rumah flat dari apartemen konvensional yang cenderung individualistis.
Pada akhirnya, rumah flat di Jakarta maupun di kota-kota lain bukan sekadar proyek arsitektur, melainkan jawaban sosial atas jebakan rumah subsidi yang kurang memberi pilihan. Hunian ini lahir dari kebutuhan nyata: agar masyarakat kelas menengah bisa hidup dengan lebih layak, inklusif, dan manusiawi.***
